Sekolah Internasional, Sebuah Perbandingan

Begitu melihat running text di salah satu stasiun TV tanah air tentang diberikannya bantuan untuk rintisan sekolah bertaraf internasional, keinginan untuk menuliskan sedikit pengetahuan tentang hal tersebut menjadi semakin besar. Sebuah keinginan pula untuk menyampaikan pesan bahwa tanpa diberi judul internasional pun, jika ada keinginan kuat, siswa SMA bisa mengantongi sertifikat internasional.

Untuk sekedar memberikan gambaran tentang sekolah internasional yang dikelola menurut sistem pendidikan negara lain, kiranya tulisan di bawah ini memberikan sedikit wawasan bagi kita.

Mengintip Sistem Pendidikan Singapura

Saya masih ingat dengan sebuah wawancara Mendiknas di salah satu stasiun TV yang membandingkan sistem pendidikan di Singapura dengan di Indonesia ibarat membandingkan bis dengan sepeda motor, dalam hal kapasitas daya angkut dan kecepatan. Benarkah demikian?

Tanpa mengurangi penghargaan atas upaya pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan di tanah air, dengan indikator ketercapaian anggaran 20% dari APBN, kiranya dua contoh berikut ini memberikan dukungan atas pernyataan Mendiknas tersebut.

Pertama, Singapura, di samping Jepang dan Australia, saat ini merupakan salah satu negara tujuan utama pelajar di wilayah Asia Tenggara khususnya, dan di Asia pada umumnya, untuk melanjukan studi atau bahkan menempuh pendidikan sejak tingkat dasar.

Penyerapan dan penerimaan lapangan kerja terhadap lulusan universitas-universitas Singapura di negara asal para pelajar sangat tinggi. Lebih dari itu, lulusan universitas-universitas Singapura bahkan dapat diserap oleh lapangan kerja di negera tersebut. Keuntungan-keuntungan inilah yang mengundang para pelajar dari luar untuk datang di sana. Pada akhirnya, negara pulau itu mendapatkan devisa serta promosi gratis bagi pariwisatanya.

Kedua, sistem pendidikan Singapura laku dijual di luar negeri. Sebagai contoh, RV! Centre International, sebuah lembaga non pemerintah pengelola berbagai bisnis berkantor pusat di Singapura, membuka sekolah atau pusat-pusat pembelajaran di kota-kota besar Myanmar (Yangon dan Mandalay) serta di Vietnam (Hanoi). Lembaga ini menerapkan 100% kebijakan SEAB (Singapore Examinations and Assessment Board). Tujuannya, selain mempersiapkan para siswa untuk bisa memperoleh sertifikat internasional dari University of Cambridge International Examinations (CIE) UK, mereka juga mempersiapkan para siswa untuk dapat diterima di universitas-universitas Singapura. Hal ini dimungkinkan karena sistem pendidikan di Singapura dengan UK memiliki banyak kesamaan.

Pada bulan April 2008, saya bersama beberapa guru IISY yang lain mengunjungi salah satu sekolah yang dikelola oleh RV! Centre International. Sekolah tersebut berada di Mandalay (kota terbesar kedua di Myanmar). Tanpa menyandang judul “international”-pun, hanya tulisan MCTA (Mandalay Chan Thar Academy) berukuran besar di pintu masuk dan di tembok bagian atas lantai 4, bangunan megah tersebut seakan berkata, “Akulah sekolah internasional.” Kolam renang, tempat bermain siswa TK dan Primary School, perpustakaan-perpustakaan (TK, Primary School dan Secondary School memiliki perpustakaan terpisah), ruang-ruang kelas bersih ber-AC, lab komputer, lab Biologi, lab Fisika, ruang konferensi, ruang teater, lapang olah raga, guru-guru dan siswa-siswa dari berbagai negara, dst. dsb. mungkin adalah representasi dari satu kata: internasional.

Sekolah ini juga telah mengantongi dua sertifikat: sertifikat dari University of Cambridge sebagai salah satu pusat dengan hak untuk menyelenggarakan ujian IGCSE (International General Certificate of Secondary Education) di Mandalay, serta sertifikat dari SEAB untuk menyelenggarakan ujian iPSLE (International Primary School Leaving Examinations).

Sistem sekolah adalah satu atap, dari TK sampai dengan kelas X berada dalam bangunan atau kompleks yang sama. Dengan demikian, pembagian kelas ke dalam Pre-School (TK), Primary School (1 dan 2), Primary School (3 dan 4), persiapan khusus PSLE (Pimary School Leaving Programme), Lower Secondary School (1 dan 2), Higher Secondary School (3 dan 4) dan kelas persiapan IGCSE, tidak mengganggu kesinambungan program secara keseluruhan. Dasar yang ditanamkan di kelas tingkat bawah akan semakin kokoh di tingkat kelas yang lebih tinggi karena hambatan-hambatan dapat terdeteksi dan diatasi sejak dini.

Mahalkah biaya pendidikan seperti itu? Tentu. Fasilitas dan kualitas berbanding lurus dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Sisi Antik Jalan Meraih Sertifikat Internasional

Itu tadi cerita tentang sebuah sekolah yang keinternasionalannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Lain lagi dengan cerita para siswa Myanmar di sekolah non-pemerintah. Hal ini juga mungkin berlaku di negara-negara lain.

Sistem pendidikan di Myanmar tidak memungkinkan sertifikat O’ Level atau IGCSE yang diperoleh siswa kelas X lulusan sekolah atau lembaga pendidikan internasional diterima di universitas atau perguruan tinggi setempat. Meskipun pada kenyataannya, kelas tertinggi sekolah pemerintah adalah kelas X juga. Hal ini menyebabkan terbentuknya dua jalur yang terpisah secara jelas antara sistem pendidikan Myanmar dengan sistem pendidikan yang dijalankan oleh sekolah atau lembaga pendidikan internasional. (Sebagai catatan, hampir semua sekolah internasional atau lembaga pendidikan dengan label internasional menjalin kerja sama dengan pusat-pusat ujian internasional yang telah diakui dunia, seperti British Council dan RV! Centre International untuk O’ Level/IGCSE dan A’ Level yang berkiblat ke UK, American Center untuk SAT (Scholastic Assessment Test) yang berkiblat ke Amerika. Jadi, sekolah-sekolah tersebut menyelenggarakan pendidikan 100% berdasarkan silabus yang ditentukan oleh lembaga penguji internasional).

Dengan terbentuknya dua jalur terpisah tersebut, maka orang tua harus mempunyai visi yang jelas tentang pendidikan putra putrinya di masa depan. Perpindahan di atara kedua jalur tersebut masih dimungkinkan meskipun jarang terjadi. Kebanyakan, siswa yang menuntut ilmu di sekolah atau lembaga pendidikan internasional memang sudah diproyeksikan oleh orang tua mereka untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Bagi siswa seperti ini, sekolah lebih berperan sebagai lembaga kursus yang menyediakan ilmu pengetahuan sesuai dengan minat mereka. Nama lembaga pendidikan pun mencerminkan peranan dimaksud. Ambil beberapa contoh misalnya ILBC (International Language Business Centre), ILC (International Learning Centre), MIES (Myanmar International Education Service), dan HIEC (Horison International Education Center). Pada prakteknya, lembaga-lembaga tersebut adalah murni sekolah, terlepas dari label learning, education, business atau apapun. Hanya dua lembaga pendidikan yang jelas mencantumkan label sekolah, yaitu ISY (International School Yangon) milik Amerika Serikat dan IISY (Indonesian International School Yangon). Sekolah pertama sudah sangat mapan dengan iuran bulanan saat ini berkisar US $ 500, sementara sekolah kedua, IISY tercinta, masih tumbuh dan mencari-cari bentuk yang pasti di tengah himpitan dua kutub: kurikulum Indonesia dan permintaan pasar akan kebutuhan sertifikat internasional.

Bagi masyarakat Myanmar kelas menengah ke atas, pada tingkat dasar mungkin peranan sekolah atau lembaga pendidikan internasional masih memegang peranan penting. Tetapi ketika mereka sudah berada di kelas VIII, IX atau X, kecenderungan untuk keluar dari sekolah menjadi besar. Mereka lebih memilih untuk belajar di rumah dengan didampingi oleh guru les masing-masing, atau memilih untuk menghadiri lembaga kursus yang memfokuskan diri pada beberapa pelajaran saja. Setelah dirasa siap, mereka akan mendaftarkan diri di salah satu lembaga penyelenggara ujian internasional untuk mendapatkan sertifikat. Lembaga penyelenggara ujian internasional tidak pernah meminta ijazah atau sertifikat sekolah formal. Mata pelajaran yang ditempuh pada satu masa ujian pun disesuaikan dengan kesiapan mereka masing-masing. Sebuah fleksibilitas yang membuat saya termangu-mangu.

Silabus Oplosan, Mungkinkah?

Tiba saatnya membicarakan sekolah di tanah air yang dengan keukeuh ingin menamai dirinya dengan sebutan internasional. Jika yang menjadi acuan keinternasionalan sebuah sekolah adalah keberhasilan siswa-siswanya memperoleh sertifikat internasional, maka memadukan silabus pada kurikulum Indonesia dengan silabus yang diterbitkan lembaga penguji internasional, adalah sebuah keharusan. Selain itu, perlu dilakukan beberapa penambahan materi yang tidak terdapat di dalam silabus kurikulum Indonesia tetapi merupakan materi pertanyaan di dalam ujian internasional.

Untuk pelajaran rumpun Ilmu Pengetahuan Alam: Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi memadukan kedua silabus ini sangat dimungkinkan karena pada level kelas yang sama dan dari segi kedalaman isi, secara umum silabus yang terdapat di dalam kurikulum Indonesia lebih tinggi dari pada silabus yang diterbitkan lembaga penguji internasional. Namun kendala yang mungkin masih dihadapi adalah belum mantapnya penguasaan bahasa Inggris oleh siswa dan guru mata pelajaran tersebut serta tidak adanya (belum saya temukan) buku teks berbahasa Inggris yang mengacu pada silabus kurikulum Indonesia.

Sedikit catatan untuk pelajaran bahasa Inggris, dari diskusi dengan native speakers , guru di IISY, tersirat pesan bahwa guru bahasa Inggris harus memiliki kemampuan literatur yang cukup. Kemahiran menganalisis, review, memberikan komentar, brain storming terhadap suatu masalah yang disodorkan menjadi sebuah kebutuhan. Tanpa mengecilkan peranan pengajaran berbasis grammar, maka pengajaran berbasis text sekarang ini menjadi lebih populer dan mewarnai tipe soal O’ Level/IGCSE bahasa Inggris.

Jika sekolah mampu memadukan silabus dan mempersiapkan para siswanya untuk menghadapi ujian internasional, maka sekolah tersebut telah memilliki warna internasional. Akan menjadi suatu keasyikan tersendiri bagi guru ketika mereka mengirim siswa yang telah dipersiapkan dan dilatih untuk mengikuti ujian internasional kemudian menunggu hasil pengumuman. Perpaduan dari kualitas guru dan kualitas siswa akan menentukan nilai akhir ujian dimaksud.

Langkah-langkah untuk Go International!

Sebagai akhir dari uraian ini, kiranya perlu digarisbawahi bahwa sekolah di tanah air yang berkualitas internasional, secara ideal memiliki kriteria:
1. berpenampilan fisik seperti MCTA,
2. memiliki kurikulum terpadu, dan
3. mampu mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian nasional dan ujian internasional.

Jika sementara ini kondisi ideal belum bisa diwujudkan, maka warna internasional bisa dihadirkan melalui enam langkah berikut:

Pertama, mencari informasi keberadaan pusat lembaga penguji internasional seperti British Council atau American Center. Jika diperlukan, bentuklah partnership dengan lembaga tersebut. Dengan dimikian, maka informasi tentang ujian, silabus, bahan-bahan pelajaran bisa didapatkan.

Kedua, melakukan analisis terhadap silabus kurikulum Indonesia dan silabus lembaga ujian internasional sehingga terbentuk silabus baru hasil perpaduan.

Ketiga, mencari atau menyusun bahan pelajaran berdasarkan silabus baru tersebut.

Keempat, menyelenggarakan workshop atau pelatihan bagi guru-guru mata pelajaran yang akan disertakan dalam ujian internasional.

Kelima, mempersiapkan dan melatih siswa.

Keenam, mendaftarkan dan mengirimkan siswa ke pusat ujian internasional. Saat ini, biaya ujian di British Council Yangon adalah US $ 75 per mata pelajaran.

Enam langkah yang mudah dituliskan dan dibacakan tetapi memerlukan banyak pemikiran, tenaga, dana, dan dedikasi di dalam implementasinya. Namun demikian, langkah-langkah tersebut operasional dan pada akhirnya bisa menghadirkan warna internasional di sekolah-sekolah umum di tanah air. Semoga.

< Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s