KTSP vs Ready for Used Curriculum

Ketika pertama kali terjun sebagai guru di Indonesian International School Yangon (IISY), penulis merasakan sebuah beban yang berat untuk mulai bekerja di dunia yang relatif baru, sebab label internasional bagi sekolah di tanah air pada permulaan tahun 2006 masih belum ngetop seperti sekarang ini.

Berbagai pertanyaan seperti: Bisakah beradaptasi dengan situasi seperti ini? Bisakah kurikulum Matematika Indonesia diterapkan di sini 100%? Bagaimanakah jawaban atas pertanyaan orang tua siswa tentang kemungkinan anaknya mengikuti ujian O’ Level dan A’ Level bagi mereka yang menuntut ilmu di IISY? Adakah sumber belajar yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan tersebut? Bahkan pertanyaan yang paling elementer: sekolah internasional itu sebenarnya seperti apa dan O’ Level serta A’ Level itu seperti apa?  dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain seputar matematika, kurikulum, dan label internasional, semuanya memenuhi benak.

Waktu berjalan, informasi mengalir dan proses adaptasi terus-menerus dilakukan. Melalui beberapa upaya, yang diwujudkan dalam praktek sehari-hari di sekolah, akhirnya sebuah pemahaman mengendap dan beberapa di antaranya telah dituangkan dalam artikel-artikel terkait terdahulu.

Kali ini, sekedar memenuhi keingintahuan beberapa rekan guru Matematika di tanah air, tulisan ini mungkin bisa memperkaya khazanah pengetahuan kita, terlepas dari apakah demam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) masih berlangsung atau sudah meredup.

KTSP dan Inovasi

KTSP dalam kaca mata penulis adalah kurikulum ideal untuk sebuah satuan pendidikan. Betapa tidak, kedalaman materi, variasi metoda, penggunaan sumber daya, dan lain-lain, semuanya disesuaikan dengan kondisi sekolah setempat. Dengan kata lain, kurikulum yang dihasilkan akan lebih membumi, jarak antara teori dan praktek menjadi tidak terlalu lebar. Ibarat seseorang sedang merencanakan sebuah bangunan, maka tampilan fisik sebuah bangunan sudah tergambar jauh-jauh hari sebelum proses pembangunan dimulai. Kualitas dan kuantitas bahan bangunan yang akan digunakan pun disesuaikan dengan kondisi keuangan yang ada. Bahkan sekat-sekat ruangan pun telah ditentukan fungsinya sebelum bangunan itu berdiri. Maka untuk mengevaluasi keberhasilan, tinggal membandingkan rancangan dengan hasil tampilan fisik setelah proses pembangunan selesai. Umpan balik yang diterima akan digunakan untuk penyempurnaan bangunan di masa yang akan datang. Itulah KTSP.

Harus diakui, tidak mudah untuk menyusun sebuah KTSP. Inovasi, kreativitas, keinginan untuk maju dan dedikasi mutlak diperlukan. Tanpa itu semua, apa lagi ditambah dengan beban non-teknis berupa ‘terganggunya’ kebutuhan dasar sang guru, maka penyusunan KTSP yang dipaksakan hanya akan melahirkan sesuatu yang tidak memiliki makna. Dokumen yang dihasilkan dari download sana download sini, copy paste dari berbagai sumber, suruh kiri suruh kanan, dikumpulkan dan dijilid akhirnya hanya akan berupa kumpulan kertas berisi tulisan sebagai pelengkap administrasi. Dus, KTSP menjadi Katesiape.

Ah, jangan suram begitu dong! Pasti masih banyak idealis bertebaran. Untuk itulah tulisan ini dimunculkan. Cobalah tantangan berikut: susunlah sebuah KTSP Matematika yang mengkombinasikan kurikulum Indonesia dan Singapura (sebagai contoh), atau dengan silabus O’ Level dan A’ Level standar UK, atau dengan SAT  (Scholastic Aptitude Test ) standar Amerika.

Sebagai bahan acuan, topik dan subtopik Matematika menurut kurikulum Singapura (untuk secondary school, atau sama dengan kelas VII s.d. X di Indonesia) silakan lihat Topik dan Subtopik Matematika Kurikulum Singapura untuk Secondary School. Sedangkan untuk mengetahui informasi tentang silabus O’ Level dan A’ Level, silakan kunjungi http://www.cie.org.uk dan untuk mengetahui informasi tentang silabus SAT silakan kunjungi http://www.collegeboard.com.

Ready for Used?

Ready for Used Curriculum (RUC) sebenarnya hanya istilah penulis sendiri (lha, belum pernah mengadakan studi banding ke Singapura koq).Maksudnya, kurikulum yang tinggal dibawakan saja oleh guru. Semua sudah dipersiapkan oleh para ahli. Ini berlawanan dengan KTSP yang pemikiran dasarnya sudah didengar sejak lama, yaitu ketika seorang  dosen mata kuliah Strategi Kegiatan Belajar Mengajar mengajukan sebuah pertanyaan “Mengapa guru perlu menyusun satuan pelajaran?”  Berbagai jawaban dikemukakan dan ujungnya bermuara pada pernyataan: Guru perlu membuat satuan pelajaran karena mereka bebas untuk berkreasi, karena mereka bukan robot!

Nah, di zaman demam KTSP begini, sebuah pertanyaan menggelitik: manakah yang lebih bagus, KTSP atau RUC tadi? Lho, bukannya KTSP adalah kurikulum ideal? Ya, so far. Theoretically! Tetapi mengapa di negara pulau tersebut beredar satu set perangkat pembelajaran untuk setiap mata pelajaran? Bukankah sistem pendidikan mereka lebih mapan?Artinya RUC itu memiliki andil yang cukup terhadap kemajuan dunia pendidikan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berawal dari kegiatan berburu buku menghadapi tahun pelajaran baru. Penulis selalu menemukan satu set perangkat pembelajaran terbitan negara pulau tersebut. Yang dimaksud dengan satu set adalah: ada text book untuk murid, ada workbook untuk murid, ada teacher’s edition text book (di dalamnya komplit dengan uraian dan jawaban dari setiap soal latihan), ada teacher’s edition workbook dan yang paling menarik adalah adanya perencanaan serta panduan untuk mengajarkan materi pelajaran (semacam program semester dan rencana pengajaran, lengkap dengan nomor-nomor soal yang harus diberikan pada setiap pertemuan). Pada beberapa mata pelajaran, bahkan dilengkapi pula dengan CD pembelajaran atau kaset. Apakah ini sebuah kasus, atau memang diterapkan secara meluas? Perlu informasi yang lebih banyak untuk mejawab pertanyaan tersebut. Suatu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah fakta bahwa Singapura tidak memiliki keragaman yang terlalu besar dalam hal fasilitas serta kualitas  pendidikan di setiap sudut negara pulau tersebut jika dibandingkan dengan Indonesia. Mungkin untuk itulah RUC akan lebih bisa digunakan secara merata.

Dengan memperhatikan keragaman kondisi di tanah air, KTSP tampaknya memberikan ruang yang cukup untuk menghadirkan proses belajar mengajar lebih dekat dengan realitas kehidupan di sekitar sekolah berada. Jika ditemukan kendala pada perancangan dan pelaksanaan KTSP, hal itu lebih diakibatkan oleh keterbatasan kemauan serta inovasi, ‘gangguan’ non-teknis yang berkaitan dengan kebutuhan dasar sang guru seperti yang disinggung di muka, serta kurangnya dukungan dan penghargaan dari manajemen sekolah bagi guru-guru kreatif dan inovatif.

Wallahu ‘alam.

Ygn. 091009

< ke Artikel

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s